Senin, 29 November 2010

''Keberanian Orang Bugis-Makasar''

Ada yang menjadi prinsip hidup bagi orang
bugis Makassar yakni jiwa keberanian
dalam mengungkapkan suatu kebenaran.
Tentunya kebenaran dalam konteks
kemaslahatan hidup orang banyak. Mereka
tak pandang bulu dalam menegakkan
kebenaran apapun yang terjadi. Sampai ada
istilah “to warani” yaitu pemberani.
Sikap ini adalah sebuah karakter bawaan
orang Sulawesi selatan khususnya suku
Bugis-Makassar yang berlangsung turun
temurun dari nenek moyang mereka.
Prinsip ini telah dibuktikan oleh pejuang
asal Sulawesi Selatan yakni Sultan
Hasanuddin hingga di gelar “ayam jantan
dari timur” atau jangang lakiya battu
iraya dan juga Arung Palakka yang dikenal
pemberani dari Tanah Bone dalam berjuang
melawan Belanda.
Selain itu juga ada Syech Yusuf Al
Maqassari ”, dengan kebulatan
keberaniannya ia merantau meninggalkan
Tanah Sulawesi Selatan menuju Afrika,
untuk memberikan semangat atas
penindasan bangsa Eropa. Tak ketinggalan
juga ada Karaeng Galesong sebagai seorang
pemberani, yang berangkat ke Tanah Jawa
membantu Pangeran Antsari berjuang
melawan Belanda. Tokoh-tokoh inilah yang
memberikan bukti sejarah bahwa orang
bugis Makassar adalah pemberani. Atas
keberaniannya itu sempat membawa nama
Sulawesi Selatan dalam kancah lokal,
nasional bahkan internasional.
Belum lagi jika kita melihat sejarah dalam
bidang kelautan. Pelaut asal bugis Makassar
ini dengan keberaniannya mereka berlayar
dengan menggunakan perahu phinisi
mengelilingi dunia. Sampai kita kenal nama
Dg. Mangalle, seorang pelaut yang berlayar
menahkodai perahu phinisi ini dengan
membawa pasukan 250 orang yang
sempat melakukan pemberontakan di
kerajaan shiam di Thailand akibat konflik
dengan Konstantin Fhaulkon.
Jika ditelisik melalui kajian psikologi,
keberanian (brave) itu idealnya adalah
bawaan setiap orang untuk bisa menjadi
pemberani. Keberanian itu adalah bagian
dari keyakinan yang kuat kepada Sang
Pencipta. Logikanya kenapa harus takut
kalau kita yakin kepada Tuhan. Dia maha
segalanya. Tiada yang menandinginya.
Tiada yang harus di takutkan kecuali Tuhan.
Siapa yang mengenal dirinya, pastilah dia
mengenal Tuhan-nya. Sikap dan keyakinan
inilah yang terbawa oleh orang bugis
Makassar dalam memahami sebuah prinsip
hidup sehingga mereka menjadi
pemberani.
Saya teringat ada seorang pejuang di tahun
1945 yang sangat di kenal di Sulawesi
Selatan, yakni almarhum Usman Balo.
Beliau adalah termasuk salah seorang
penjuang bugis asal Sidrap yang sangat
“ pemberani”. Hingga sempat di juluki
“balo” na sidenreng. Semasa hidupnya,
Usman Balo sangat di kenal sebagai tokoh
kharismatik yang sangat disegani.
Kebetulan sewaktu beliau masih hidup,
saya selalu sempatkan bertemu dengannya
karena almarhum Usman Balo ini adalah
masih saudara dengan almarhum Bapak
Saya. Dan saya pikir wajarlah jika saya
sering bersilaturahmi sekaligus ingin
mengetahui sejauh mana ketokohannya
yang pemberani dan kharismatik itu.
Beliau sempat berpesan kepada saya.
Bahwa “mengapa harus takut, yang kita
takut hanya satu yaitu Tuhan…!” semua
manusia pasti akan mati”. Prinsip inilah
yang saya selalu ingat dari Usman Balo.
Juga ada kata-kata yang ia selalu pegang
dan di jadikan prinsipnya hingga akhir
hayatnya adalah “Iya ada iya gau”. Apa
yang di ucapkan, harus di buktikan. Inilah
harga mati bagi seorang Usman Balo
semasa hidupnya hingga di kenal sebagai
tokoh pemberani dari Sulawesi Selatan.
Bahkan Presiden Soekarno waktu itu
sempat menaruh perhatian kepadanya.
Melihat hal tersebut, orang Bugis –
Makassar tidak saja terkenal keberaniannya,
tetapi juga di landasi dengan pribadi-
pribadi yang cerdas dan pintar. Kecerdasan
orang Bugis-Makassar mungkin disebabkan
karena mungkin mereka sangat suka
mengkonsumsi ikan dan hasil-hasil laut
lainnya. Disamping rata-rata mata
pencarian orang Bugis Makassar adalah
nelayan. Bagi mereka, ikan adalah sebuah
kebutuhan pokok sehari-hari mereka.Ikan
adalah sumber protein dan juga beberapa
zat-zat gizi yang ada di dalamnya. Yang
bisa menstimulasi hormon yang diperlukan
oleh tubuh. Barangkali bisa jadi hormon
kejantanan. Dengan mengkonsumsi ikan
yang banyak, bisa memberikan kecerdasan
diatas kecerdasan tanpa makan ikan atau
hasil hayati lainnya.
Lebih lanjut, bahwa keberanian orang Bugis
Makassar sangat di tunjang dengan
kecerdasan yang mereka miliki. Bukannya
keberanian tanpa dasar yang membawa
sifat-sifat anarkisme dan kekerasan.
Substansi keberanian mereka itulah biasa
di sebut “macca”. Bahkan dalam
menyelesaikan suatu persoalan, mereka
takkan mundur ketika persoalan itu belum
menemukan satu solusi. Kita bisa ambil
contoh, mantan Wapres Jusuf Kalla.
Dengan keberanian dan kecerdasannya
yang powefull, ia mampu menyelesaikan
berbagai konflik di tanah air. Diantaranya
kasus Aceh, Poso, Ambon, dsb. Seorang JK
sangat tahu kadar dan bingkai yang harus
beliau lakukan demi kemaslahatan hidup
bangsa ini. Semua itu beliau lakukan
dengan penuh keberanian tanpa ada pihak
yang dirugikan.
Quo Vadis Keberanian Bugis Makassar
Dengan melihat kajian tersebut diatas,
timbul pertanyaan yang sangat
menggelitik. Bahkan memalukan bagi
sebagian kalangan dan tokoh-tokoh
masyarakat asal Sulawesi Selatan baik yang
berkacah di pusat maupun yang berada di
kampung halaman sendiri yakni maraknya
aksi-aksi brutal yang dilakukan mahasiswa
di Makassar, apakah masih pantas bagi
mahasiswa-mahasiswa itu sebagai
generasi penerus bangsa di katakan
pemberani yang menjunjung tinggi
kecerdasan dan intelektualisme? Mungkin
sebagain besar dari mereka beranggapan
bahwa aksi-aksi yang mereka lakukan itu
adalah salah satu jiwa patriotisme dalam
menegakkan kebenaran. Padahal seperti
yang saya ulas diatas, mereka lupa bahwa
jiwa heroik atau pemberani itu adalah
adalah tidak bisa di pahami sepenggal-
sepenggal. Ia harus dipahami secara utuh
dan ketuhan itu harus bulat.
Muncullah sebuah penghayatan dalam
keberanian itu. Yang di dalamnya ada
kecerdasan termasuk kedamian dan kasih
sayang. Rasa-rasanya, hal ini menjadi pe-er
buat kita semua. Secara umum, indikasi
lunturnya rasa keberanian masyarakat
Bugis Makassar, yang di contohkan oleh
kebrutalan dan anarkisme mahasiswa di
Makassar ini antara lain di sebabkan.
Pertama, tidak adanya lagi sosok pemimpin
yang benar-benar bisa dijadikan panutan.
Minimal setiap persoalan yang
mengemuka, seorang pemimpin sudah bisa
merasakan ketika adanya bias-bias dari
bawah jika akan terjadi sesuatu. Apa yang
di rasakan oleh rakyatnya, bisa dirasakan
olehnya. Pemimpin seperti inilah yang
diharapkan memiliki rasa keberanian yang
kuat untuk melindungi rakyatnya. Sehingga
akan muncul kharismatik dan “rasa”
kecintaan dan di cintai oleh rakyatnya.
Bagaimana ia menjiwai semua yang ada di
sekelilingnya dalam menyelesaikan
berbagai persoalan.
Kedua, etika dan estetika yang selama ini
selalu di junjung tinggi oleh orang Bugis
Makassar yang merupakan kearifan lokal
turun temurun tidak lagi di jadikan sebagai
sebuah dasar dalam tatana hidup
bermasyarakat. Padahal di dalam etika
estetika seperti yang tersurat di dalam
“ lontara”, mengandung nilai-nilai
spiritual yang sangat dalam. Bagaiamana
manusia bisa mengenal dirinya secara utuh
dan juga Sang Pencipta. Dan jika di kaji
lebih jauh, dalam lontara ini semua tatana
hidup bermasyarakat ada di dalamnya.
Ketiga, pudarnya jiwa pemberani orang
Bugis Makassar juga dikarenakan faktor
akses teknologi informasi yang begitu
cepat, seiring dengan peradaban dunia
secara global. Semua bisa terakses dengan
begitu mudah. Mulai dari kebutuhan pokok,
hiburan, dan apa saja semuanya dengan
instan bisa di peroleh dengan mudah.
Budaya konsumtif orang Bugis Makassar ini
adalah salah satu pemicu menurunnya
mentalitas keberanian yang ada pada
mereka. Dunia materialisme membawa
manusia lupa akan segala-galanya.
Keempat, kurang fokusnya perhatian
pemerintah di Sulawesi Selatan untuk
melihat masalah ini sebagai sebuah
masalah yang sangat penting. Menyangkut
kehidupan berbangsa kedepan. Mereka
lebih banyak fokus pada diri mereka
sendiri. Banyak faktor yang membuat
mereka seperti itu. Salah satunya adalah
jiwa keberanian mereka sebagai
pemerintah dalam hal ini sebagai pelayan
rakyat dalam menyelesaikan suatu
persoalan yang mengatasnamakan rakyat
belum begitu menyentuh realitas apa yang
mereka butuhkan.
Mengamati berbagai indikasi diatas.
Masyarakat Bugis Makassar telah
kehilangan jati dirinya yang sejati. Yang
mana nilai-nilai kesejatian yang hilang itu
terkandung kuat jiwa keberanian. Mengapa
saya katakan dalam tulisan ini telah hilang
kemana perginya? Ringkas saja bahwa jiwa
keberanian selama ini yang dilakukan oleh
aksi-aksi mahasiswa di Makassar adalah
sebuah aksi yang justru merusak nilai-nilai
keberanian orang bugis Makassar yang
sudah dibuktikan secara turun temurun.
Warisan yang taruhlah telah mengalami
degradasi baik dari kesalahan pemahaman
terlebih lagi penghayatan.
Mungkin juga mereka tidak paham apa
esensi keberanian serta eksistensi nilai-nilai
yang ada dalam keberanian itu sendiri.
Sehingga meng-kristal dalam ke-egoan
yang mendarah daging itu. Bagaimana
mereka mau berani jika mereka tidak
menghayati keberanian itu? Dalam masalah
ini kita harus melihat secara bijak dan
jernih denggan pandangan yang holistik
agar dapat menemukan sebuah benang
merah mengapa semua ini bisa terjadi.
Sehingga nantinya akan ditemukan sebuah
solusi dan konsep yang akan kita resapi
dengan menukik ke dalam diri masing-
masing.
Filosofinya. Keberanian itu mutlak adanya.
Apa yang pernah diwariskan oleh para
pendahulu orang Bugis Makassar secara
turun temurun itu hendaknya dipahami
secara seksama dengan penuh
penghayatan. Yang mana kita harus berani
dan yang mana kita harus mengalah. Itu
sudah merupakan wujud aktualisasi dari
menanamkan jiwa “pemberani” dalam
diri kita. Jangan biarkan nilai-nilai positif
dari keberanian itu diinterpretasikan secara
negatif sehingga terjadi pendangkalan
makna dan pemahaman serta
penghayatannya. Padahal sesungguhnya,
jika kita mau sadar bahwa apa yang telah
dilakukan oleh para leluhur kita terdahulu
sehingga mereka bisa membuktikan secara
empirik menjadi “to warani” itu harus
pula kita lanjutkan dengan penuh
keberanian pula yang sejatinya ada dalam
diri manusia.
Dengan begitu, orang Bugis Makassar tetap
di kenal sebagai pribadi yang benar-benar
“ kesatria” dan “pemberani”. Tepat
konsisten dalam menyuarakan kebenaran
tanpa pernah ada rasa takut menyuarakan
kebenaran demi kemaslahatan hidup orang
banyak apapun yang akan terjadi. ”Iya
ada, Iya Gau..”.
Oleh : Imansyah Rukka
http://www.kompasiana.com/
imansyah_roekka