Kamis, 25 November 2010

Sejarah Suku Bajo

Tentang suku bajo, tersebar di banyak
tempat di Indonesia.Juga diberbagai
negara termasuk Thailand.Meski demikian,
bahasa yang digunakan tetap sama, bahasa
Bajo.Ada dua versi sejarah suku Bajo,
pertama ada yang berpendapat dari Johor,
tapi ada juga yang mengatakan berasal dari
Palopo, Sulawesi Selatan. Namun, menurut
Manan, presiden suku Bajo, kalau dari
bahasa, dia malah melihat ada kesamaan
dengan bahasa Tagalog, Filipina.
Bajo, Bajau atau Sama Bajo juga merupakan
salah satu suku di Indonesia yang
menyebar ke berbagai penjuru negeri.
Konon nenek moyang mereka berasal dari
Johor, Malaysia. Mereka adalah keturunan
orang-orang Johor yang dititahkan raja
untuk mencari putrinya yang melarikan
diri. Orang-orang tersebut diperintahkan
mencari ke segala penjuru negeri hingga
pulau Sulawesi. Menurut cerita, sang puteri
memilih menetap di Sulawesi, sedangkan
orang-orang yang mencarinya lambat laun
memilih tinggal dan tidak lagi kembali ke
Johor. Dan konon menurut satu versi, sang
puteri yang menikah dengan pangeran
Bugis kemudian menempatkan rakyatnya
di daerah yang sekarang bernama BajoE.
Sedangkan versi lainnya menyebutkan
karena tidak dapat menemukan sang
puteri, akhirnya orang-orang asal Johor ini
memilih menetap di kawasan Teluk Tomini,
baik di Gorontalo maupun Kepulauan
Togian.
Suku Bajo dikenal sebagai pelaut ulung
yang hidup matinya berada diatas lautan.
Bahkan perkampungan merekapun
dibangun jauh menjorok kearah lautan
bebas, tempat mereka mencari
penghidupan. Laut bagi mereka adalah
satu-satunya tempat yang dapat
diandalkan. Julukan bagi mereka sudah
barang tentu sea nomads, karena pada
mulanya mereka memang hidup terapung-
apung diatas rumah perahu. Orang Bajo
inipun menyebar ke segala penjuru wilayah
semenjak abad ke-16 hingga sekitar 40-50
tahun silam (perpindahan terakhir terjadi
di berbagai wilayah di NTT).
Diberbagai tempat, orang Bajo banyak
yang akhirnya menetap, baik dengan
inisiatif sendiri atau di ’paksa’
pemerintah. Namun tempat tinggalnyapun
tidak pernah jauh dari laut. Banyak orang
Bajo yang akhirnya menetap, sedang
lainnya masih berkelana dilautan. Mereka
membangun pemukiman-pemukiman baru
di berbagai penjuru Indonesia. Berikut
sebagian dari tempat bermukimnya suku
Bajo ini, utamanya di Pulau Sulawesi dan
Nusa Tenggara sebagai pusat
pemukimannya. Orang Bajo dikenal mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitarnya, kendati tradisinya sendiri tetap
berjalan.
Dari segi bahasa, kendati orang Bajo
mempunyai satu bahasa. Namun dialek
mereka terpengaruh dengan bahasa-
bahasa daerah tempat mereka bermukim.
Seperti di kabupaten Lembata, mereka
hanya berbahasa Bajo dengan kaumnya,
sementara itu mereka berbahasa
Lamaholot bila bertemu di pasar atau
berinteraksi dengan penduduk luar
kelompoknya. Pernah sekitar 6 tahun silam
saya pernah membaca artikel tentang surat
orang Bajo asal Sabah, Malaysia yang ingin
menjalin ikatan dengan orang Bajo di
Sulawesi Tengah, disertakan juga sampel
bahasa Bajo yang dipakai disana pula.
Namun ketika sampel bahasa Bajo Malaysia
dibandingkan dengan bahasa Bajo
setempat, ternyata sudah mengalami
perbedaan yang sangat jauh sebagai akibat
pengaruh bahasa-bahasa lainnya.
Orang Bajo terutama di Sulawesi Selatan
banyak mengadaptasi adat istiadat orang
Bugis atau Makassar. Atau juga adat
istiadat Buton di Sulawesi Tenggara.
Sedangkan orang Bajo di Sumbawa
cenderung mengambil adat Bugis, bahkan
seringkali mengidentifikasi dirinya sebagai
orang Bugis/Buton di beberapa daerah.
Meskipun telah ratusan tahun tinggal
bersama penduduk lokal yang beragama
Katolik atau Kristen di NTT, orang Bajo
tetap sampai sekarang taat menganut
agama Islam, dan bagi mereka Islam
adalah satu-satunya agama yang menjadi
ciri khas suku ini. Menjaga kekayaan laut
adalah salah sifat yang diemban oleh suku
Bajo. Dengan kearifannya mereka mampu
menyesuaikan diri dengan ganasnya
lautan.
Jawa Timur
Suku Bajo diperkirakan banyak terdapat di
Kepulauan Kangean, Sumenep. Umumnya
mereka tinggal di Pulau Sapeken,
Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, Paliat
dan pulau-pulau sekitarnya. Mereka tinggal
bersama dengan suku Madura dan Bugis.
Bali
Orang Bajo dari Kangean dan lain tidak
bermukim secara eksklusif dibanding
daerah lainnya. Kebanyakan ditemui di
Singaraja dan Denpasar atau kawasan
pantai membaur dengan masyarakat Bali
dan Bugis. Ada yang tahu mungkin? Mohon
bantuannya.
Nusa Tenggara Barat
Suku Bajo di pulau Lombok ditemui
disebuah kampung di Kecamatan Labuhan
Haji, Lombok Timur. Sedangkan di Pulau
Sumbawa, mereka banyak dijumpai di
Pulau Moyo dan sekitarnya, serta kawasan
Bima di belahan timur Sumbawa.
Nusa Tenggara Timur
Di Pulau Flores mereka dapat dijumpai di
kawasan pesisir, mulai dari Kabupaten
Manggarai Barat hingga Flores Timur (di
sana ada kota bernama Labuhan Bajo yang
diambil dari nama suku itu). Pemukiman
mereka di Nusa Tenggara Timur antara lain
di Lembata yakni di wilayah Balauring,
Wairiang, Waijarang, Lalaba dan Lewoleba.
Pulau Adonara : Meko, Sagu dan
Waiwerang. Sedangkan sisanya bermukim
di Pulau Solor, Alor dan Timor, terutama
Timor Barat. Mereka sudah bermukim
disana sejak ratusan tahun silam dan hidup
rukun dengan penduduk setempat. Orang
Bajo juga banyak dijumpai dikawasan
sekitar Pulau Komodo dan Rinca.
Gorontalo
Sepanjang pesisir Teluk Tomini, terpusat di
wilayah Kabupaten Boalemo dan
Gorontalo.
Sulawesi Tengah
Kepulauan Togian di Teluk Tomini, Tojo
Una-Una, Kepulauan Banggai. Selain itu
dimungkinkan dijumpai di pesisir
Kabupaten Toli-Toli, Parigi Moutong dan
Poso.
Sulawesi Tenggara
Terdapat di pesisir Konawe dan Kolaka
(pulau utama). Di Pulau Muna (Desa
Bangko, Kecamatan Baginti yang konon
sudah ada sejak abad ke-16), Pulau
Kabaena, Pulau Wolio, Pulau Buton,
Kepulauan Wakatobi (Kaledupa, Binongko,
Kapotta dan Tomea).
Sulawesi Selatan
Terpusat di Kelurahan Bajoe, Kabupaten
Bone. Orang Bajo banyak tinggal di
kawasan sepanjang pesisir teluk Bone sejak
ratusan tahun silam.
Orang Bajo juga banyak bermukim di
pulau-pulau sekitar Kalimantan Timur,
Maluku, dan Papua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar